Berita

Revitalisasi Pendidikan Vokasi, Belajar dari Kisah Sukses Swiss

Menjawab ajakan pemerintah kepada sektor industri agar meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, demikian Managing Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto menyebut latar belakang berkumpulnya lintas pihak dalam seminar Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi di Indonesia: Implementasi Pembelajaran Dual System, di Kampus Universitas Prasetiya Mulya. “Agar inisiatif yang kami lakukan mampu menjangkau potensi setempat, membekalinya dengan pendidikan serta ketrampilan yang selaras dengan karakteristik dan kebutuhan industri terkait. Pemerintah telah memfasilitasi dalam bentuk kebijakan hingga insentif, dunia usaha juga telah melakukannya, dan kini, kami mencoba belajar dari praktik terbaik di negara lain. Melalui vokasi, dunia usaha dapat membuat lembaga pendidikan yang sesuai kebutuhan kami,” ujarnya.

Menggandeng Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kedutaan Besar RI di Bern, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Eka Tjipta Foundation (ETF), Institut Teknologi dan Sains Bandung (ITSB), Politeknik Sinar Mas Berau (Poltek Simas Berau) bersama Univesitas Prasetiya Mulya serta PT Astra International Tbk dan Triputra Group, Rabu (17/7), pihaknya berupaya agar model pendidikan dual vocational education and training yang lazim disebut dual system dapat dipahami lebih mendalam, dan kemudian  direplikasi pada sejumlah lembaga pendidikan vokasi Indonesia yang telah dan akan berdiri.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir yang hadir sebagai pembicara kunci menyampaikan, revitalisasi akan terfokus pada lembaga pendidikan vokasi yang telah ada berikut pembenahan kurikulum, fasilitas dan infrastruktur, berikut kualitas tenaga pendidik, “Sehingga para lulusan pendidikan tinggi vokasi tidak saja memegang ijazah, namun memiliki pula sertifikat kompetensi. Jangan sampai para lulusan memiliki ijazah, tapi tidak kompeten. Dengan begitu, nantinya sebelum bekerja, mereka tidak lagi ditanya berasal dari perguruan tinggi mana, tapi cukup ditanya apa sertifikat kompetensi yang dimiliki,” ujar Menristekdikti.

Menyambung pernyataan Menristekdikti tentang sertifikat kompetensi, Sulistiyanto mengatakan pihaknya menyambut baik kebijakan pemerintah memberlakukan super tax deductible atau insentif fiskal dalam bentuk keringanan pajak bagi industri yang berinvestasi pada pendidikan vokasi, serta aktivitas penelitian dan pengembangan. “Harapannya, seluruh inisatif perusahaan dalam pendidikan vokasi yang menghasilkan lulusan tersertifikasi, berkesempatan mendapatkan insentif tadi.”

Dalam praktiknya, dual system melibatkan sektor industri dalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi yang memadukan pembelajaran teori sebanyak 30 persen dan 70 persen berupa praktik di lingkungan kerja, sesuai kebutuhan industri terkait. Chairman of Swiss Federal Institute for Vocational Education &Training (SFIVET), Gnaegi Philippe yang hadir sebagai pembicara mengatakan, hadirnya negara bersama sektor privat akan menghasilkan sistem pendidikan vokasi yang efektif, sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Swiss menjadi mitra penting merevitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia disebabkan penerapan dual vocational education and training yang mereka terapkan mampu menghasilkan pekerja usia muda yang produktif sekaligus kompetitif. Tercermin dari angka pengangguran pekerja muda yang kecil dan peringkat tertinggi yang mampu dicapai negara ini dalam Global Competitiveness Index lansiran World Economic Forum.

Duta Besar RI, Muliaman D Hadad berharap kualitas dan produktivitas sumber daya manusia tidak menjadi missing link dalam proses pembangunan ekonomi Indonesia. Menurutnya, pendidikan vokasi yang dapat menjadi solusi, masih menghadapi beberapa tantangan, seperti masih kuatnya anggapan para orangtua bahwa jalur pendidikan ini hanyalah pilihan kesekian bagi anak-anaknya. Kemudian, keengganan sektor privat mempekerjakan para lulusan vokasi. Dengan kata lain, ekosistemnya belum terbangun sempurna.

Langkah China yang tengah mereformasi pendidikan vokasi, diantaranya dengan memfungsikan National Vocational Education Steering Committee, dinilai Muliaman dapat menjadi referensi bagi Indonesia. Di tempat yang sama, berlangsung pula penandatangan letter of intent antara Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti dengan SFIVET.

Sementara KADIN, melalui Ketua Umum-nya, Rosan P Roeslani menilai struktur angkatan kerja Indonesia yang jumlahnya sebesar 140 juta orang, dimana 40 persen diantaranya berlatar belakang pendidikan sekolah dasar, 18 persen sekolah menengah, dan hanya sekitar 13 persen yang berlatar belakang diploma atau universitas, memang merisaukan. “Bagaimana angkatan kerja ini dapat produktif, beradaptasi dengan cepat, dan berdaya saing? Padahal kebutuhan dunia usaha dengan ketersediaan tenaga kerja, unsur link and match-nya sangat tinggi.” Oleh karenanya, pihaknya memandang tepat penyediaan insentif bagi industri yang bersedia menyelenggarakan pendidikan vokasi, serta berinvestasi dalam ranah penelitian dan pengembangan.

Sebelumnya

Dukungan Sinar Mas dalam pengembangan pendidikan vokasi, diantaranya tampak saat tanggal 16 Mei silam di Lausanne, Swiss – disaksikan Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani – delegasi Eka Tjipta Foundation mendampingi perwakilan Politeknik Sinar Mas Berau menandatangani MoU bersama Swiss International Technical Connection(SITECO) yang memungkinkan kerja sama di bidang Lecturer Upgrading (Retooling, Doctor Program and Vocational Instructor Certification Program,Laboratorium Upgrading), berikut Lecturer and Student Exchange and Academic Management System Upgrading.

Kemitraan memberi Poltek Simas Berau kesempatan menerapkan seluruh metode pengajaran tadi dalam program studi Teknologi Rekayasa Logistik, Survei dan Pemetaan, dan Perawatan Mesin.  Peresmian politeknik pertama di Kabupaten Berau ini, berlangsung pada tanggal 5 April, dilakukan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan.

Tak ketinggalan, Institut Teknologi dan Sains Bandung masih bersama SITECO bermitra dalam bidang Lecturer Upgrading (Retooling, Doctor Program and Vocational instructor certification program laboratorium upgrading), Lecturer and Student Exchange and Academic Management System Upgrading, Development of Sustainable Production, and Dual Degree Program Development. ITSB adalah perguruan tinggi yang didirikan oleh Sinar Mas Land bersama Institut Teknologi Bandung tahun 2010 di Kota Deltamas Cikarang, sebuah township development Sinar Mas Land.

Sulistiyanto mengatakan, para mitra tersebut tengah melakukan kajian dan penilaian di program studi Teknologi Pengolahan Sawit, Fakultas Vokasi ITSB dan seluruh program studi yang dinaungi Poltek Simas Berau Coal.