Berita

Yang Sama Jangan Dibeda-bedakan, dan Yang berbeda jangan Disama-samakan

PTIK – Jakarta, 20 November 2019

Eka Tjipta Foundation (ETF) hadir di Kampus Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan lewat gelaran kegiatan tahunan Gathering Penerima Beasiswa ETF, Rabu (20/11/2019). Dalam acara yang bertujuan menjalin hubungan dan silahturahmi dengan para penerima beasiswa ini. Hadir 156 peserta dari berbagai program beasiswa ETF yang berdomisili di Jabodetabek. Tema bahasan, bertajuk “Upaya Menangani Radikalisme Di Dalam Dunia Pendidikan”.

G. Sulistiyanto, selaku Ketua Umum mengawali kegiatan dengan memperkenalkan visi, misi ETF juga program yayasan di ranah pelestarian lingkungan, perluasan akses pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi. Disampaikan pula, insiatif ETF dalam kegiatan sosial seperti restorasi pasca bencana di berbagai daerah seperti Sulawesi Tengah, Banten, NTB, hingga Halmahera Selatan, dukungan pemasangan solar panel bagi masyarakat yang belum memiliki akses listrik, ragam kegiatan bakti sosial kesehatan, serta program pemberdayaan masyarakat lainnya.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Muslim Sinar Mas, Badrodin Haiti ganti menyampaikan upaya Sinar Mas menangani radikalisme melalui aktivasi Yayasan Muslim Sinar Mas. Misi terbesarnya adalah mewadahi praktik ke-Islam-an yang terbuka, toleran, setara, dan penuh kasih di lingkup Sinar Mas, memanfaatkan potensi yang dimiliki segenap karyawan guna bersama-sama tak sekadar meningkatkan produktivitas kerja, namun juga ketakwaan pribadi. Di masyarakat, yayasan menurutnya mendorong silaturahmi sekaligus sinergi bersama sosok maupun lembaga keagamaan, melalui beragam kegiatan keagamaan, sosial, dan pendidikan. “Di mana setiap keyakinan dapat bertumbuh tanpa memusuhi keyakinan lainnya,” ujarnya.

Sementara Irjen (Pol.) Boy Rafli Amar selaku Wakil Kepala Lembaga dan Pelatihan Kepolisian Republik Indonesia yang hadir mewakili Kapolri mengingatkan jika radikalisme merupakan ancaman serius bagi kehidupan berbangsa karena telah hadir hingga ke dalam lembaga pemerintah dan juga dunia pendidikan. Menurutnya, 4 Konsesus Nasional; yakni Pancasila, UUD, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI merupakan pegangan bangsa Indonesia menjaga keutuhan negara, termasuk dalam menghadapi paham radikalisme serta intoleransi.

Menurut Alissa Wahid dari Wahid Institute yang menjadi pembicara utama memulai perbincangan dengan bertanya kepada para peserta, “Apa itu radikalisme?” Ada yang menjawab radikalisme merupakan bentuk intoleransi terhadap budaya dan ideologi, ada juga yang menjawab sebuah paham yang menentang politik dan dapat menimbulkan diskriminasi, bahkan ada yang menyamakannya dengan tindakan terorisme. Alissa melanjutkannya dengan, “Apa yang menjadi permasalahan radikalisme di masyarakat?” Dirinya berpandangan, perbedaan prinsip antara kelompok mayoritas dengan kelompok minoritas di lingkungan masyarakat, termasuk dalam lingkungan pendidikan rentan memunculkan perselisihan. Kelompok minoritas karena keberadaannya yang lebih kecil, terpaksa harus menerima pandangan kelompok mayoritas. “Oleh sebab itu radikalisme bukan hanya berkaitan dari agama, namun juga mayoritarisme di lingkungan masyarakat, yang jika terabaikan dapat mengancam keutuhan NKRI.”

Berbagai upaya yang dilakukan untuk menangkal radikalisme, salah satunya adalah menjaga toleransi dan ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Menurutnya, aparat keamanan seharusnya menjamin keamanan semua warga tanpa memandang ras, suku, agama, ataupun perbedaan latar belakang. Dengan begitu, potensi munculnya radikalisme dapat ditekan. Menutup pemaparannya, Alissa menyampaikan “Yang sama jangan dibeda-bedakan, dan yang berbeda jangan disama-samakan.” Indonesia ada karena keberagaman suku, agama, rasa, budaya dan bahasa. Jika tidak ada keberagaman maka tidak akan ada Indonesia.

Foto bersama : Pimpinan Sinar Mas, Direktur Eksekutif, Komite Pendidikan, Seluruh Penerima Beasiswa Eka Tjipta Foundation dan peserta undangan Gathering.

Dalam kesempatan yang dihadiri pula oleh Ketua Umum YMSM yang juga Managing Director Sinar Mas, Saleh Husin serta Direktur Eksekutif ETF, Ardy Candra Sutandi, Alissa Wahid mengingatkan agar penyelenggara pendidikan dan para pendidik (guru dan dosen) harus mampu memberikan pemahaman dan pembinaan terhadap siswa tentang sikap menghargai perbedaan demi terwujudnya harmoni sosial, tanpa memandang eksklusivisme terhadap satu agama, budaya maupun ideologi. Sementara  para penegak hukum harus tegas namun netral dalam bertindak dan bersikap. Melihat setiap manusia punya kesempatan yang sama tanpa membedakan warna kulit, budaya, agama dan ideologi. Dirinya menyitir pesan KH. Abdurrachman Wahid, “Tidak boleh ada pembedaan kepada setiap warga Negara Indonesia berdasarkan agama, bahasa ibu, kebudayaan serta ideologi.” Menurutnya, mahasiswa harus mempunyai pemikiran yang tidak hanya cerdas tapi juga terbuka terhadap perbedaan agar bisa meneruskan estafet kepemimpinan ke depan. “Generasi muda harus selalu giat belajar dan mempunyai keinginan memajukan dan mencerdaskan bangsa.

ETF Peduli Covid-19


    Total Donatur
    2.362 orang

    Terkumpul
    Rp. 2.602.447.000,-

facebook twitter instagram